Aku punya cerita. Cerita lama sebenarnya, tapi ga tau kenapa ini masih aja ada di pikiran aku sampe sekarang dan belum ada orang yang tau tentang ini.
Aku punya temen—hell no! Bukan temen sebenernya. Okay, dia temen lama memang. Tapi orang-yang-aku-ga-suka lama juga, dan mungkin sampe sekarang kalau bisa dibilang. Dia dulu memang manis, baik waktu awal pertama kenal. Sering dateng ke meja aku cuma untuk nanya cuaca atau pinjam pulpen. Beberapa bulan dari itu, dia pernah punya masalah dan aku ga tau kenapa. Ngga ngerti lah ya ini sih masalah dia sama temennya yang lain. Selesai itu, dia minta maaf dia kalau selama ini dia punya salah. Dia bilang dia sayang temen-temennya. Repeat, dia sayang temen-temennya.
Kita naik kelas. Semuanya pisah. Semuanya udah punya temen-temen baru. Termasuk temen aku yang itu – haha teman ya – dia punya kelompok lain dari temen lamanya. Dipercepat, aku pernah punya masalah sama beberapa orang waktu itu, dan bukan sama dia. Saya tegaskan, bukan sama dia. Ngga tau kenapa dia mungkin ngerasa kesel ya temennya punya masalah sama aku, tapi hell-o nama dia sama sekali ga ada dalam cerita waktu itu. Sok-sok sms aku sore-sore cuma untuk tanya mau maafan atau ngga. It wasn’t her business at that time, was it? Dan dia sering ‘sepet’ atau sindir aku yang sebenarnya kalau bisa dilihat tuh dia juga begitu. Dia pernah bilang aku sombong lah, apa lah, segala macem, tapi lihat deh kalau dia mau bercermin dirinya sendiri. Lihat cara dia bicara, dia sering update status facebook atau twitternya tentang kebanggan prestasi yang sebenarnya yaaah aku akui memang bagus, tapi mungkin karena dibaca oleh mata aku aja yang memang ga suka. Dia juga sok cantik. Okay, memang sih ya – without those muscles indeed – sampai pacar aku juga dulu pernah suka dan kadang dia sering cerita tentang masa itu dan bikin aku jealous. Entahlah, masih banyak sebenarnya. Waktu aku disuruh ganti peran di theater padahal sudah latihan agak lama dan sudah hafal, dan segampang itu dia bilang ke ketua untuk ganti peran aku jadi peran lain dalam waktu kurang dari lima menit hanya karena kekurangan space dan taunya tampil di lapangan yang spacenya 2 kali lipat dari yang dia bilang sempit itu. Ironic. Pathetic me. Dari semenjak itu aku udah kesel dan udah anggap dia bukan siapa-siapa aku lagi.
Oh, kabar terbaru dari dia. Katanya dia sekarang banyak fansnya. Parahnya, dia jadi belagu karena mereka. Ada yang bilang katanya dia ga mau kehilangan fans. Yah, ga ngerti juga lah ya dia mau ngapain untuk pertahanin orang-orang yang dia pikir fans itu. I’m still wondering how could they love her? With those muscles? Ew, no. Matakna tong gede teuing tah otot, meh beuki loba nu bogoh.
Notes

